Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menyiapkan koperasi tingkat provinsi untuk menyerap, mengolah, dan memasarkan produksi kopi dari delapan kabupaten. Langkah ini diarahkan untuk memperluas akses pasar, memperpendek rantai pemasaran, serta meningkatkan pendapatan petani melalui pengolahan komoditas bernilai tambah. Koperasi tersebut telah menerima pasokan biji kopi dari sejumlah wilayah dan mulai mengolahnya menjadi produk siap jual untuk pasar lokal maupun luar Papua Pegunungan.
Gubernur Papua Pegunungan John Tabo mengatakan potensi perkebunan kopi di wilayah pegunungan sangat besar dan perlu dikelola secara terintegrasi. Salah satu pasokan yang telah masuk berasal dari Distrik Kurima dan Tangma di Kabupaten Yahukimo, yang kini menjalani proses pengeringan sebelum memasuki tahap pengolahan lanjutan.
Berdasarkan informasi yang disadur dari ANTARA News Papua, penguatan kelembagaan koperasi menjadi bagian penting dari upaya pemerintah membangun kepastian penyerapan hasil produksi masyarakat.
Koperasi Memperkuat Rantai Nilai Kopi
Koperasi provinsi tersebut berada di bawah pembinaan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Papua Pegunungan. Fasilitas yang tersedia mencakup rumah pengeringan dan mesin pengolahan kopi, sehingga biji kopi yang diterima dapat ditingkatkan kualitasnya sebelum dipasarkan. Kehadiran sarana ini memungkinkan proses pascapanen dilakukan lebih dekat dengan sentra produksi sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada jalur pemasaran yang panjang.
John mendorong seluruh pemerintah kabupaten memanfaatkan fasilitas koperasi agar produksi perkebunan masyarakat dapat terserap secara berkelanjutan. Selain kopi, koperasi juga disiapkan untuk menampung berbagai komoditas pertanian dan perkebunan lain yang memenuhi standar kualitas pengelola. Petani yang menghasilkan komoditas sesuai kriteria koperasi dapat menjualnya dengan harga pasar yang layak, sehingga peluang peningkatan pendapatan tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman.
Dukungan Pembibitan untuk Menjaga Produksi
Keberlanjutan pasokan menjadi perhatian pemerintah provinsi karena kapasitas pengolahan dan perluasan pasar harus diikuti ketersediaan bahan baku. Untuk itu, organisasi perangkat daerah teknis diinstruksikan memberikan dukungan pembibitan dan pendanaan bagi kelompok tani kopi di delapan kabupaten. Dukungan tersebut diharapkan memperluas areal tanam, memperkuat produktivitas, serta membangun basis produksi yang mampu memasok kebutuhan koperasi secara konsisten.
Salah satu contoh kegiatan pembibitan berada di Kelila, Kabupaten Mamberamo Tengah, yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan. Pemerintah daerah mendorong kegiatan serupa diterapkan di wilayah lain agar produksi kopi meningkat dan memiliki akses pemasaran hingga ke luar Papua Pegunungan, termasuk peluang menuju pasar ekspor.
Dengan menghubungkan pembibitan, produksi, pengeringan, pengolahan, dan pemasaran dalam satu ekosistem, koperasi diharapkan menjadi instrumen penguatan ekonomi daerah sekaligus membuka peluang usaha dan memperluas sumber pendapatan masyarakat.


