Kontak senjata antara Satgas Rajawali Enam Koops Habema dan kelompok kriminal bersenjata pimpinan Wariambo Wandikbo terjadi di sekitar Kampung Nonggoloid, Kenyam Komplek, Papua Pegunungan. Dalam peristiwa tersebut, dua anggota kelompok bersenjata dilaporkan tewas setelah terlibat baku tembak dengan pasukan TNI. Operasi itu berada di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III atau Kogabwilhan III.
Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menyatakan kedua orang tersebut bukan warga sipil karena membawa senjata api ketika berhadapan dengan prajurit. Pernyataan itu disampaikan untuk menjelaskan konteks operasi dan membedakan pihak yang terlibat dalam kontak senjata dari masyarakat umum di sekitar lokasi. TNI menyebut peristiwa tersebut berlangsung ketika pasukan menjalankan tugas pengamanan di wilayah Kenyam.
Operasi Pengamanan Berbasis Pemantauan
Sebagaimana disadur dari Kompas.tv, keberadaan anggota kelompok bersenjata itu terpantau melalui rekaman drone milik TNI. Dalam rekaman tersebut, mereka disebut terlihat sedang mempersiapkan senjata untuk menyerang prajurit. Informasi hasil pemantauan itu kemudian menjadi bagian dari langkah pasukan dalam menghadapi ancaman bersenjata di sekitar Kampung Nonggoloid.
Kontak senjata selanjutnya melibatkan Satgas Rajawali Enam Koops Habema yang berada di bawah kendali Kogabwilhan III. Setelah situasi di lokasi dinyatakan terkendali, pasukan menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok tersebut. TNI menyatakan barang-barang itu diamankan sebagai barang bukti dari area terjadinya kontak senjata.
Barang Bukti dan Tantangan Stabilitas Wilayah
Barang bukti yang ditemukan meliputi uang tunai senilai puluhan juta rupiah, senapan angin modifikasi yang dapat menembakkan peluru tajam, empat kotak amunisi, serta berbagai jenis senjata tajam. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman keamanan di wilayah itu tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan senjata, tetapi juga dengan kemampuan kelompok bersenjata menyiapkan perlengkapan untuk melakukan serangan.
Rincian barang bukti menjadi bagian penting dalam menggambarkan kondisi operasi yang dihadapi aparat.
Keamanan wilayah memiliki keterkaitan langsung dengan keberlangsungan pelayanan publik dan aktivitas masyarakat. Situasi yang stabil dibutuhkan agar akses pendidikan, layanan kesehatan, mobilitas warga, serta kegiatan ekonomi dapat berjalan tanpa gangguan. Karena itu, setiap operasi keamanan perlu dilaksanakan secara terukur, dengan tetap membedakan kelompok bersenjata dari masyarakat sipil dan memastikan perlindungan terhadap warga menjadi perhatian utama.
Peristiwa di Kenyam kembali memperlihatkan kompleksitas tantangan keamanan di Papua Pegunungan. Di samping penindakan terhadap ancaman bersenjata, penguatan kehadiran negara melalui pelayanan dasar, komunikasi dengan masyarakat, dan pembangunan yang merata tetap penting untuk memperkuat kepercayaan publik. Penanganan keamanan dan pembangunan perlu berjalan beriringan agar stabilitas wilayah dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

